Peran Kemenag dan Pencegahan Radikalisme di Desa?

BATU AMPAR – Persoalan radikalisme sepertinya belum dapat diselesaikan dan terus saja terjadi, sehingga perlu dicari akar persoalannya sehingga secara masiv dapat ditanggulangi.

Menurut Kepala Desa Batu Ampar Harwan Iskandar, banyak hal yang dapat menyebabkan tumbuh dan berkembangnya sikap radikalisme di negeri ini. Diantaranya:
1. kesenjangan sosial yang berdampak pada kemiskinan, kecenderungan kemiskinan menyebabkan nilai-nilai negatif lebih mudah masuk. Karena kecenderungan masyarakat garis bawah tidak memiliki kemampuan-kemampuan dan pemahaman yang cukup untuk menangkal virus radikalisme.
2. Politik, yang memanfaatkan kesesatan berfikir kelompok tertentu
3. Kehadiran pemerintah yang belum maksimal ditengah masyarakat

Kehadiran pemerintah ditengah masyarakat yang kurang itu misalnya saja Lembaga Kentrian agama, di Desa Batu Ampar diluar lembaga pendidikan formal yang kita rasakan adalah baru sebatas administratif, “Pencatatan Pernikahan, Jumlah Kurban, Zakat Fitrah laporan perubahan struktur perangkat agama”. Lalu apakah dengan itu radikalisme bisa kita cegah pertanyaannya.

Kenapa Kemenag yang disoroti, karena harus diakui bahwa radikalisme itu lebih dominan oleh kelompok mengatasnamakan agama. Sehingga kehadiran Kemenag ditengah masyarakat harus lebih baik untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah desa dan tokoh keagamaan nya sendiri. Misalnya saja dengan memaksimalkan peran penyuluh agama ditingkat desa.

Harus diakui bahwa pengetahuan dan kemampuan masyarakat desa sangat berbeda dan berpariasi bahkan pada pemerintah desa dan tokoh agamanya sendiri. Jangan dikatakan bahwa stakeholder desa dipastikan orang yang pasti memiliki pemahaman dan kemampuan untuk mengidentifikasi radikalisme. Buktinya sebagai besar kelompok yang disebut radikal itu berada di desa. Dengan memanfaatkan kesantunan, penghormatan terhadap orang asing dan ketidak pahaman masyarakat desa terhadap kelompok-kelompok tertentu.