PROFIL DESA BATU AMPAR

Pendahuluan

Batu Ampar merupakan salah satu desa di Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu, ditetapkan menjadi desa definitive pada tahun 2006 pemeka dari Desa Simpang Kota Beringin.

Terletak di dataran tinggi mulai dari 700 MDPL dengan luas wilayah 791,94 ha yang terdiri dari 291,48 ha sebagai wilayah perkebunan, pertanian dan lainnya, 6,01 ha pemukiman dan 494,45 ha kawasan Hutan Wisata Bukit Kaba.

Desa Batu Ampar berbatasan langsung dengan Kabupaten Rejang Lebong di bagian utara, Selatan berbatasan dengan Desa Pulo Geto, Bagian Timur berbatasan dengan Bukit Hitam dan Barat berbatasan dengan Kelurahan Durian Depun dan Desa Pulo Geto.

 

Sejarah Singkat Desa

Berdasarkan penggalian sejarah desa dari beberapa  tokoh desa, Kata Batu Ampar yang saat ini ditetapkan menjadi nama desa muncul sejak tahun 1960 an yang ditetapkan oleh Pasirah Desa Pulo Geto yang bernama Majid bersama Penggawo Talang Tirut yang bernama Tirut.

Secara umum wilayah sebelum ditetapkan bernama Batu Ampar dikenal dengan sebutan “Imbo Telapea”. Desa Batu Ampar yang dahulu merupakan hamparan hutan yang kemudian pohon-pohon yang berada di hutan tersebut roboh akibat angin kencang , hamparan pohon-pohon tumbang itu lalu disebut oleh masyarakat Suku Rejang dengan sebutan Imbo Telapea yang terjadi diperkirakan sekitar tahun 1930 an. (Sumber; Sopiah)

Imbo telapea kemudian oleh orang pertama tinggal di Batu Ampar yang bernama “Retangan” dari Air Putih mendatangi “Pangeran Jenang Kalam” yang memimpin Mergo Migei (Kepahiang hingga Simpang Kota Bingin) untuk meminta izin memanfaatkan Imbo Telapea sebagai lading, permohonannya disetujui dengan membayar biaya izi sebesar  “4 rupiah 70 sen”. (Sumber; Sopiah)

Imbo Telapea yang telah mendapatkan izin dari pangeran mulai dijadikan ladang oleh Retangan dengan menanam padi darat dengan benih 14 kaleng, konon pada saat pembersihan lahan dengan membakar hamparan pohon-pohon yang sudah mati dan kering api bahkan 2 bulan belum dapat di padamkan.

Setelah beberapa lama lahan dimanfaatkan oleh Retangan untuk lading dan kebun barulah menyusul beberapa orang untuk berladang/berkebun di Imbo Telapea yang kemudian menjadi petalangan istilah tempat tinggal kelompok masyarakat yang berkebun dalam satu hamparan yang diperkirakan sekitar tahun 1942.

Nama orang pertama yang menyusul keluarga Retangan berkebun dan berladang di Imbo Telapea adalah “Ului”  bersuku Serawai yang sebelumnya tinggal di Pungguk Meranti lalu menyusul nama Ruadin dan Ali Judin.

Ului menempati lahan yang saat ini menjadi pemakaman Desa Batu Ampar yang dahulu disebut Talang Ului kemudian menjadi Talang Wa anak dari Ruadin.

Seiring bertambahnya jumlah orang di perkirakan sekitar tahun 1950 di Imbo Telapea menjadi 3 talang sebagai tempat tinggal kelompok masyarakat yang mayoritas masyarakat Suku Serawai, yaitu Talang Wa yang awalnya dikenal sebagai talang Ului, Talang Yani dan Talang Tirut.

Pada awal 1960 an Pasirah Majid untuk kepentingan mempermudah koordinasi bersama Tirut yang saat itu sebagai penggawo menetapkan semua wilayah Imbo Telapea sebagai Batu Ampar.

Kata Batu Ampar disepakati karena kesulitan bagi tirut untuk mengucapkan kata Imbo Telapea karena ia bersuku Serawai, “Oleh Pasirah Majid meminta Tirut mengambil sebuah batu datar yang kemudian dijadikan alas tiang pondok tempatnya tinggal dan meminta tirut menyebutkan sebutan bagi batu tersebut lalu tirut menyebutnya Batu Ampagh / Batu Ampar” ( Ali Akbar) yang hinnga saat ini Imbo Telapea menjadi Desa Batu Ampar.

 

Visi 

Menjadi desa mandiri dalam pengelolaan sumberdaya alam, ekonomi dan sosial untuk mencapai adil dan sejahtera secara berkelanjutan

 

Misi

  1. Membangun sumberdaya manusia yang berpendidikan tinggi dan berahlaq baik.
  2. Membanguan atau menempatkan infrastruktur desa untuk peningkatan pertumbuhan pertanian dan ekonomi desa.
  3. Mengembangkan sumberdaya alam dan pengelolaan pertanian yang berkelanjutan (selaras alam).
  4. Memperkuat kesehatan masyatakat dan lingkungan desa
  5. Membangun rasa aman, nyaman dan mengembangkan jaringan kemitraan

 

Potensi

  1. Sumber Daya Alam; Desa Batu Ampar yang berada denkat dengan kawasan hutan dan dataran tinggi memiliki potensi alam seperti hutan dengan berbagai keanekaragaman hayatinya, sungai
  2. Sumber Daya Manusia; dengan 208 Kepala Keluarga dan 720 jiwa, Desa memiliki 196 Kepala Keluarga sebagai petani dan sisanya memiliki pekerjaan lain tetapi tetap bertani menjadi pencaharian tambahan
  3. Ekonomi; dari 291,48 lahan yang dimiliki sebagai peruntukan lain terdapat 250 ha perkebunan kopi dengan aren, lada sebagai tanaman sela serta bamboo yang terdapat di sepanjang aliran sungai yang terdapat di desa.
  4. Sosial;Tradisi gotong royong masih terdapat di desa yang dapat dilihat dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti umbung, kematian atau kegiatan desa lainnya.Pelestarian seni dan budaya seperti seperti adat pernikahan, penyambutan tamu kehormatan, pencak silat, gitar tunggal 

 

Pemerintahan;

Pemerintahan Desa di Pimpin Kepala Desa Harwan Iskandar sebagai Kepala Desa ke 3 yang sebelumnya di pimpin oleh Imansyah tahun 2006-2012, Yudi Nahendra tahun 2012-2018, dalam menjalankan pemerintahan desa Kepala Desa dibantu oleh 1 orang Sekretaris Desa, 3 orang Kepala Urusan, 3 oang Kepala Seksi,  4 orang Kepala Dusun serta 5 orang anggota BPD.

 

Kelembagaan;

Kelembagaan desa sangat penting untuk membantu pemerintah desa dalam melaksanakan kegiatan pembangunan desa, kelembagaan yang terdapat di Desa Batu Ampra adalah PKK, LPM, Karang Taruna, Risma, Lembaga Adat serta Keagamaan.