Bambu dan Masyarakat Desa Batu Ampar

BATU AMPAR-Semenjak awal keberadaan Desa Batu Ampar pada tahun 1946 bambu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa, dapat dimaknai bahwa bambu sebelum dijadikan sebagai pemukiman bahwa bambu sudah ada di Desa Batu Ampar.

Pada awal kemerdekaan cikal bakal desa mulai ada dengan ditempati kawasan ini oleh masyarakat yang pada saat itu dipergunakan sebagai tempat berladang dari desa sekitar seperti Durian Depun, Simpang Kota Bingin dan Pulo Geto. Secara berlahan dengan semakin bertambahnya jumlah sehingga dijadikan tempat bermukim dan ditetapkan menjadi desa defenitif pada tahun 2006.

Logis sekali jika bambu sejak awal menjadi sangat akrab dengan masyarakat, setidaknya ada 3 hal yang menjadi penyebabnya:

1. Bambu sebagai kebutuhan sandang

Akses transportasi menuju pasar baru dibuka badan jalan tahun 86 melalui program padat karya dan baru pada tahun 2000 dilakukan peningkatan jalan. Sehingga kebutuhan untuk perumahan masyarakat menggunakan bambu dan kayu

2. Bambu sebagai bahan pangan

Secara umum masyarakat Provinsi Bengkulu menjadikan salah satu bahan pangan dengan memanfaatkan rebung atau tunas bambu dan salah satu masakan khas Bengkulu terbuat dari rebung bambu

Baca: https://www.merdeka.com/sehat/ini-8-manfaat-rebung-untuk-kesehatan-tubuh.html

3. Bambu sebagai komoditas ekonomi

Kerajinan Bambu

Jual berbagai macam kerajinan bambu, ceret, cangkir, nampan dan lainnya

Kebutuhan bambu masyarakat untuk berbagai keperluan telah mendorong bambu untuk dapat dipergunakan masyarakat desa untuk menjual bambu untuk keperluan masyarakat di luar desa

Bambu di Desa Batu Ampar sebagian besar terdapat di sepanjang aliran sungai yang secara sederhana dipahami oleh masyarakat sebagai tanaman yang di anggap dapat menahan longsor dan menjaga ketersediaan air.
Hutan Bambu

Dari pengalaman dan pengamatan masyarakat akar bambu yang kuat dapat menahan tanah untuk tidak mudah longsor, serta mata air akan menjadi tetap stabil dan terjaga. Pada beberapa tempat sumber air yang tidak terdapat bambu sudah kering. Sehingga untuk mengembalikan keberadaan air masyarakat cenderung menanam bambu.