Konflik Air Desa Batu Ampar Apakah Dampak Perubahan Iklim

Desa Batu Ampar dengan luas wilayah kurang lebih 2000 hektar dan 1600 hektar merupakan kawasan hutan yang dikelola oleh BKSDA karena ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam.

Dimulai sejak tahun 1946 hingga ditetapkan sebagai desa defenitif pada tahun 2006. Desa Batu Ampar dengan jumlah penduduk 659 jiwa dan 201 KK semuanya adalah petani, dalam memenuhi kebutuhan hidup sebagian besar masyarakat mengelola tanaman kopi. Sebagai alternatif ekonomi masyarakat memanfaatkan rebung bambu dan aren.

Saat ini masyarakat dihadapkan dengan konflik air, terutama air bersih, kondisi ini semakin terasa semenjak tahun 2013 ketika Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kepahiang menggunakan sumber air bersih yang selama ini dipergunakan masyarakat Desa Batu Ampar untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Kecamatan Merigi. Sehingga ketersediaan air bersih untuk masyarakat desa menjadi kurang dan kekeringan beberapa hektar sawah.

Seharusnya ini mungkin tidak akan terjadi, apabila beberapa sumber air yang ada di desa tidak mengecil atau bahkan kering. Kenyataannya hari ini beberapa sumber air yang dahulu mengecil dan kering dan ada beberapa hanya mengalir pada saat musim hujan, ketika musim kemarau akan kering.

Di bawah tahun 95 kondisi ini belum terjadi separah ini menurut tetua desa. Ketika sebagian besar kawasan hutan belum terganggu, masih banyak bintang liar dan daerah aliran sungai masih terlindungi.

Peningkatan jumlah penduduk yang begitu cepat telah membuat kebutuhan akan lahan menjadi bertambah sehingga menjadikan kawasan hutan salah satu upaya memenuhi kebutuhan lahan untuk bertani. Dan itu sebagian besar bukanlah masyarakat Desa Batu Ampar melainkan masyarakat desa tetangga.

Desakan kebutuhan untuk bertahan hidup sehingga berkebun menjadi alternatif yang cepat, diperparah juga oleh lemahnya pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya keseimbangan alam dalam menopang keberlanjutan kehidupan di bumi ini.

Untung saja yang ditanam adalah kopi, sehingga walaupun tidak sekuat pohon asalnya tetap bisa menahan air.

Berkurangnya ketersediaan air akibat perubahan iklim sepertinya benar, itulah kondisi yang kami rasakan saat ini, dahulu sumber air yang hanya kami manfaatkan untuk Desa Batu Ampar, sekarang sudah harus berbagi dengan masyarakat se Kecamatan Merigi.

Masalahnya tidak hanya sebatas kekurangan air karena harus berbagi, sumber air yang dipergunakan untuk air bersih dahulunya merupakan salah satu sumber air untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah dibeberapa desa tetangga seperti Pulo Geto dan Bumi Dari, yang berdasarkan kondisi terkini pengelolaan sawah untuk bertanam padi menjadi tidak lagi dapat dilakukan setiap saat karena kekurangan air akibat beberapa sumber air mengecil dan berubah pemanfaatan nya untuk air bersih.

Entah harus dimulai dari mana, tetapi kondisi ini mestilah dicarikan solusinya, jika masih ingin hidup lebih lama. Pemenuhan hajat hidup mestilah diperjuangkan tetapi tetap harus dilakukan dengan bijak.

Pendidikan soal iklim, lingkungan, atau kalau dahulu pengetahuan alam menjadi mendesak untuk dilakukan disemua kelompok masyarakat.

Mengasah rasa, agar tetap peduli kepada kepentingan sesama tidak semat memperturutkan syahwat dengan dalih kesejahteraan dalam pemahaman yang salah.