Melawan Lupa Sang Kepala Desa, Bahwa Dahulu Semua Bisa

BATU AMPAR – Ketika berdiskusi bersama teman-teman perangkat desa, kami mencoba mengingat apa dan bagaimana desa dibangun. Sebelum Batu Ampar ditetapkan sebagai desa defenitif secara administratif Batu Ampar merupakan bagian dari Desa Simpang Kota Bingin, barulah ditetapkan sebagai desa pada 14 Agustus 2006.

Dari perbincangan tersebut ada pertanyaan menggelitik dari salah satu teman, “cakmano Kito Ndak begerak kalo dananyo dak Ado”, sontak kalimat itu membuat saya menjadi reaktif lalu berkata ” dahulu semua bisa dilakukan oleh para pendahulu desa, mereka mampu mendirikan masjid, membangun sekolah, berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk mendapatkan informasi, mereka tidak mengeluh dan mereka tidak pernah lelah untuk bekerja untuk kepentingan bersama, mereka tidak digaji mereka bekerja dengan ikhlas bergotong royong, berswadaya dan mandiri. Lalu ada apa dengan kita semuanya sudah difasilitasi oleh masyarakat melalui anggaran negara walaupun tidak semewah perangkat negara lainnya”.

Perkataan itu adalah nasehat dan kemarahan, tetapi sekaligus membuat kecemasan akan ketidak berdayaan untuk berbuat lebih baik dari apa yang disampaikan. Tetapi semua harus dimulai, tidak boleh menyerah dan lemah.

Mungkin Ada yang salah dengan semua ini, sehingga semua menjadi sangat pelit dan perhitungan, semua diukur dengan materi. Kita lupa akan tanggung jawab sosial.